.
Surabaya — Tiga hari di alam terbuka menjadi pengalaman berharga bagi siswa kelas VIII SMPIT Al Uswah Surabaya dalam kegiatan LSEC (Leadership, Survival, and Education Camp) Angkatan 17. Kegiatan yang berlangsung pada 30 September–2 Oktober 2026 di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, ini menjadi ruang belajar yang berbeda dari rutinitas kelas. Di tengah sejuknya udara pegunungan, tantangan medan, dan kehidupan perkemahan, para siswa belajar bahwa kemandirian tidak tumbuh hanya dari nasihat, tetapi juga dari pengalaman, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi tantangan.
Hari Pertama: Belajar Mandiri Sejak Langkah Pertama
Petualangan dimulai dengan perjalanan backpacker menuju lokasi perkemahan. Para siswa berjalan kaki dan memanfaatkan transportasi umum untuk mencapai Bumi Perkemahan Coban Rondo. Perjalanan ini menjadi latihan awal untuk mengelola diri, menjaga barang bawaan, menaati kesepakatan kelompok, serta saling membantu selama perjalanan.
Setibanya di lokasi, para siswa bergotong royong mendirikan tenda sebagai tempat bernaung selama kegiatan berlangsung. Mereka kemudian mengikuti games keakraban untuk membangun kedekatan dan memperkuat kekompakan antarteman.
Pembelajaran berlanjut melalui materi pembuatan bivak yang disampaikan oleh kakak-kakak ambalan dari SMAIT Al Uswah. Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan pengalaman praktis tentang keterampilan bertahan di alam terbuka sekaligus memahami pentingnya kerja sama, ketelitian, dan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Di sela-sela kegiatan, para siswa juga menjalani makan komando, yaitu makan bersama di lapangan dengan mengikuti arahan dan aturan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan ini, siswa dibiasakan menjaga adab makan, menikmati hidangan tanpa berbicara atau mengeluarkan suara, serta menghabiskan makanan yang telah disediakan.
Makan komando bukan sekadar melatih ketertiban saat makan. Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan kedisiplinan, pengendalian diri, rasa syukur atas rezeki yang tersedia, dan tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, siswa belajar bahwa karakter yang baik juga tercermin dari cara seseorang menghargai nikmat dan menaati kesepakatan bersama.
Hari pertama menjadi pengingat bahwa sebuah perjalanan yang baik tidak hanya ditentukan oleh tujuan akhir, tetapi juga oleh kesiapan, kebersamaan, dan tanggung jawab setiap orang yang menempuhnya.
Hari Kedua: Menaklukkan Tantangan, Menumbuhkan Ketangguhan
Hari kedua menjadi salah satu bagian paling menantang dalam rangkaian LSEC Angkatan 17. Kegiatan diawali dengan penjelajahan malam mengelilingi area bumi perkemahan sejak pukul 13.00 hingga menjelang subuh. Para siswa yang telah kembali ke area perkemahan melanjutkan kegiatan dengan salat tahajud secara mandiri.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk melatih ketangguhan fisik sekaligus membangun kedisiplinan dan kemandirian dalam beribadah. Di tengah lelahnya perjalanan, mereka belajar bahwa menjaga hubungan dengan Allah Swt. tetap menjadi bagian penting dari setiap aktivitas.
Setelah memasak dan sarapan bersama, para siswa melanjutkan kegiatan dengan penjelajahan alam menuju Air Terjun Coban Tengah. Perjalanan ini menghadirkan tantangan tersendiri. Mereka harus melewati medan yang sulit, memasuki kawasan hutan, menyeberangi sungai kecil, serta menapaki jalur perbukitan yang naik dan turun.
Penjelajahan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga kembali ke perkemahan sekitar pukul 13.00 tersebut mengajarkan banyak hal. Setiap langkah menuntut kehati-hatian, setiap rintangan membutuhkan keberanian, dan setiap kesulitan menjadi kesempatan untuk saling menguatkan.
Dalam perjalanan itu, siswa belajar bahwa ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Ketangguhan justru tumbuh ketika seseorang mampu mengelola diri, tetap mengikuti arahan, dan tidak meninggalkan teman yang membutuhkan bantuan.
Sepulang dari penjelajahan, kegiatan dilanjutkan dengan latihan inagurasi sebagai persiapan penampilan malam kebersamaan. Pada malam harinya, suasana perkemahan semakin semarak melalui acara api unggun dan penampilan inagurasi dari para siswa.
Di bawah langit malam Coban Rondo, setiap penampilan menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kreativitas, keberanian, dan kemampuan bekerja sama. Api unggun bukan sekadar nyala yang menerangi kegelapan, melainkan simbol semangat yang terus dijaga bersama: semangat untuk tumbuh, berkarya, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Hari Ketiga: Mengawali Pagi dengan Ibadah, Menguatkan Kekompakan dengan Tantangan
Memasuki hari ketiga, para siswa dibangunkan pada pukul 03.00 untuk mempersiapkan diri menjalani rangkaian kegiatan pagi. Setelah menunaikan salat Subuh dan membaca Al-Ma’tsurat, mereka mengikuti jelajah pagi menuju Air Terjun Coban Rondo.
Perjalanan pagi ini menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah Swt. sekaligus mempererat kebersamaan setelah dua hari menjalani berbagai tantangan. Setibanya di air terjun, para siswa dan pendamping mengabadikan momen melalui foto bersama. Senyum dan kebersamaan yang terbingkai menjadi kenangan indah dari perjalanan yang sarat pengalaman tersebut.
Pagi itu memberikan pelajaran bahwa pendidikan karakter tidak hanya berlangsung ketika siswa menghadapi kesulitan. Saat menikmati keindahan alam pun, mereka diajak untuk mensyukuri nikmat Allah, menjaga kebersamaan, dan menghargai pengalaman yang telah dilalui.
Setelah kembali ke area perkemahan dan sarapan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian permainan outbound hingga menjelang siang.
Berbagai permainan dirancang untuk mengasah keterampilan, keberanian, komunikasi, dan kekompakan kelompok. Tantangan jaring laba-laba menguji kemampuan bekerja sama dalam melewati rintangan. Halang rintang melatih ketangkasan dan ketekunan. Permainan memindahkan bom, yaitu memindahkan bola dari dalam kotak menggunakan tali rafia, menuntut koordinasi, strategi, dan komunikasi yang efektif.
Para siswa juga mencoba egrang yang melatih keseimbangan dan keberanian, serta permainan ketapel yang membutuhkan ketelitian dan kendali diri.
Setiap permainan menghadirkan pelajaran yang berbeda. Ada kalanya sebuah kelompok harus menyusun ulang strategi, memperbaiki komunikasi, atau mengulang usaha setelah mengalami kegagalan. Dari proses itulah siswa belajar bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang mudah, tetapi melalui kesediaan untuk mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki diri.
Rangkaian kegiatan LSEC Angkatan 17 kemudian ditutup dengan upacara penutupan. Tiga hari yang penuh pengalaman itu pun berakhir, tetapi nilai-nilai yang dipelajari diharapkan terus tumbuh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bersama Membentuk Generasi Mandiri dan Bertanggung Jawab
Pelaksanaan LSEC Angkatan 17 melibatkan pendampingan dari wali kelas, guru mata pelajaran, serta kakak-kakak kelas yang tergabung dalam ambalan SMAIT Al Uswah. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman belajar yang terarah, mendidik, dan bermakna bagi para siswa.
Melalui kegiatan ini, SMPIT Al Uswah Surabaya berupaya menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab siswa melalui pengalaman nyata. Siswa tidak hanya belajar mengikuti instruksi, tetapi juga mengelola kebutuhan pribadi, menjaga perlengkapan, menjalankan tugas kelompok, menaati kesepakatan, dan mempertimbangkan keselamatan diri serta orang lain.
Pembiasaan seperti makan komando juga menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui aktivitas sehari-hari. Ketertiban, adab, rasa syukur, dan tanggung jawab bukan hanya materi yang dipelajari, melainkan kebiasaan yang perlu dilatih hingga menjadi bagian dari kepribadian.
Pengalaman hidup di alam terbuka memberikan ruang bagi siswa untuk mengenali kekuatan dan keterbatasan diri. Mereka belajar bahwa menjadi pribadi mandiri bukan berarti melakukan segala sesuatu sendirian. Kemandirian justru berjalan beriringan dengan kepedulian, kesediaan menerima arahan, dan kemampuan bekerja sama.
LSEC Angkatan 17 menjadi salah satu ikhtiar SMPIT Al Uswah Surabaya dalam membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga tangguh, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Semoga pengalaman tiga hari di Coban Rondo menjadi bekal berharga bagi seluruh peserta. Ketika kelak mereka menghadapi tantangan yang lebih besar, kenangan tentang perjalanan, medan yang sulit, kerja sama, dan perjuangan bersama diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap kesulitan dapat menjadi jalan pembelajaran.
Sebab, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Terkadang, pelajaran paling berharga hadir di jalan yang menanjak, di antara langkah yang melelahkan, dalam kedisiplinan menjalani kebiasaan sederhana, dan dalam uluran tangan seorang teman yang memilih untuk tidak membiarkan kita berjalan sendirian.
Berita lainnya
BLC 2026: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan, Menempa Kemandirian di Alam Terbuka
Belajar dari Dunia Nyata, Siswa SMPIT Al Uswah Surabaya Jelajahi Pabrik Yakult dan Budidaya Jamur Tiram
LSEC Angkatan 17: Menempa Kemandirian, Menguatkan Kebersamaan di Alam Terbuka
Ukir Prestasi di Ajang Nasional, Muhammad Arfeen Hadi Ashta Raih Medali Emas KSNR-8
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.




