.
Pelepasan Siswa Kelas IX Angkatan XV SMPIT Al Uswah Surabaya di Auditorium PENS pada Sabtu, 6 Juni 2026, tidak hanya dipenuhi momen haru dan penuh makna. Di sela-sela rangkaian acara, para hadirin juga disuguhi berbagai penampilan yang menunjukkan bakat dan kreativitas para siswa. Salah satu yang paling memikat perhatian adalah penampilan Tari Saman yang dibawakan oleh enam siswi kelas IX: Hanin, Aya, Hasna, Farah, Sani, dan Yihan.
Sejak para penari memasuki panggung, suasana auditorium seolah berubah. Dengan balutan busana yang rapi dan santun, mereka duduk berbaris membentuk formasi khas Tari Saman. Ketika irama mulai mengalun, gerakan tangan yang serempak, tepukan yang ritmis, serta kekompakan yang terjaga menghadirkan pesona tersendiri bagi para penonton.
Tepuk demi tepuk berpadu dengan gerakan yang harmonis, menciptakan sebuah pertunjukan yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga menunjukkan hasil latihan yang penuh kesungguhan. Kekompakan mereka bagaikan untaian benang yang dirajut dengan teliti; setiap gerakan saling melengkapi, setiap irama saling menguatkan.
Namun, ada hal lain yang membuat penampilan ini terasa istimewa.
Di tengah arus hiburan yang sering kali mengaburkan batas antara seni dan kepantasan, Tari Saman yang dibawakan para siswi SMPIT Al Uswah tampil dengan tetap menjaga nilai-nilai syariat. Tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada ekspresi yang melampaui batas kesopanan. Keindahan yang ditampilkan lahir dari kekompakan, kedisiplinan, dan penghayatan, bukan dari hal-hal yang bertentangan dengan adab seorang muslimah.
Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa seni dan syariat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menghadirkan karya yang tetap indah tanpa kehilangan nilai-nilai yang dijaga. Para siswi menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh subur tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip yang diyakini.
Lebih dari sekadar sebuah pertunjukan, Tari Saman hari itu menjadi cerminan hasil pendidikan yang ditanamkan selama bertahun-tahun di Al Uswah. Pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara berkarya yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Para hadirin pun memberikan apresiasi yang hangat. Tepuk tangan yang mengiringi berakhirnya penampilan seolah menjadi penghargaan atas kerja keras para penari sekaligus penghormatan terhadap pesan yang mereka sampaikan melalui gerakan-gerakan yang santun dan bermakna.
Di atas panggung pelepasan Laskar Limolas itu, Tari Saman tidak hanya menghadirkan keindahan budaya. Ia juga menjadi pesan yang hidup bahwa seorang muslimah dapat tetap berkarya, berprestasi, dan tampil memukau tanpa harus meninggalkan kehormatan dan adabnya. Sebuah pelajaran indah yang mungkin akan dikenang lebih lama daripada durasi tarian itu sendiri.
Berita lainnya
BLC 2026: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan, Menempa Kemandirian di Alam Terbuka
Belajar dari Dunia Nyata, Siswa SMPIT Al Uswah Surabaya Jelajahi Pabrik Yakult dan Budidaya Jamur Tiram
LSEC Angkatan 17: Menempa Kemandirian, Menguatkan Kebersamaan di Alam Terbuka
Ukir Prestasi di Ajang Nasional, Muhammad Arfeen Hadi Ashta Raih Medali Emas KSNR-8
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.




