Lompat ke konten

SMPIT AL USWAH

Warisan Terbaik

WARISAN TERBAIK

Oleh: Ustadz Mondzir, M.HI.

Warisan Terbaik

Semua orang tua berharap dapat mewariskan banyak hal kepada anak-anaknya. Ada yang bekerja keras mencari uang sebanyak-banyaknya sebagai warisan. Ada juga yang menumpuk aset seperti rumah, tanah, emas, dan harta lainnya dengan harapan, setelah meninggal dunia, anak-anak mereka mendapatkan warisan yang melimpah.

Namun, kenyataannya, sebagian anak justru saling berebut warisan. Akibatnya, keluarga menjadi tidak harmonis hanya karena persoalan harta. Bahkan, ada orang tua yang tidak diizinkan untuk menikah lagi setelah ditinggal pasangannya karena dianggap akan mengurangi harta warisan. Ternyata, warisan berupa materi memang berpotensi besar untuk diperebutkan dan merusak hubungan kekeluargaan. Padahal, sebetulnya warisan sudah diatur secara adil dalam ajaran Islam.

Mewariskan sesuatu kepada anak-anak memang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah bahkan melarang kita meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah—baik secara ekonomi, sosial, fisik, maupun mental. Namun demikian, banyak orang yang lebih mementingkan warisan materi daripada warisan yang sejatinya paling berharga.

Nabi Ya’qub mencontohkan kepada kita warisan yang sesungguhnya penting untuk diperhatikan. Hal ini tergambar dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 133:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى ۖ قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ وَإِسْحَـٰقَ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًۭا ۖ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'” (QS. Al-Baqarah: 133)

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa warisan terbaik menurut Al-Qur’an adalah mewariskan keimanan dan pendidikan agama yang baik kepada anak-anak kita.

Mewariskan keimanan kepada anak-anak merupakan kewajiban orang tua. Dengan menanamkan keimanan kepada mereka, kita sebenarnya sedang menyambung kebaikan yang tak terputus. Keimanan yang sama inilah yang akan mempertemukan kita kembali dengan anak dan cucu di akhirat kelak.

Selain keimanan, pendidikan agama yang baik juga termasuk warisan terbaik. Keimanan tanpa dasar ilmu tidak akan kokoh. Oleh karena itu, mewariskan keimanan dan keilmuan adalah dua warisan terbaik yang tidak bisa dipisahkan.

Tidak heran apabila banyak orang tua rela mengorbankan biaya dan tenaga demi memberikan pendidikan agama terbaik kepada anak-anak mereka. Dengan memberikan pendidikan agama yang baik, sejatinya kita sedang berinvestasi bagi masa depan mereka.

Anak yang kurang baik akhlaknya akibat minimnya pendidikan agama justru bisa menjadi kerugian besar bagi orang tuanya. Jika hal semacam itu sudah terjadi, kerugian tersebut tidak bisa ditebus dengan harta sebanyak apa pun. Maka dari itu, Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis:

“Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) tatakrama yang baik.”
(HR. At-Tirmidzi, No. 1952)