Lompat ke konten

SMPIT AL USWAH

Belajar Menjadi Pelaku Usaha: Siswa Kelas VII SMPIT Al Uswah Gelar Bazar The Young CEO

.

SURABAYA — Setelah mendapatkan bekal pengetahuan dan inspirasi kewirausahaan melalui kegiatan Guru Tamu bersama Chef Ko Hang pada 21 Oktober lalu, siswa kelas VII Angkatan 18 SMPIT Al Uswah Surabaya kini mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung. Pada Kamis, 5 November 2026, mereka menggelar bazar kewirausahaan bertajuk “The Young CEO” sebagai puncak proyek kokurikuler kewirausahaan.

Lapangan sekolah yang biasanya menjadi tempat berolahraga dan berkumpul berubah menjadi area bazar yang semarak. Beragam stan berdiri dengan aneka pilihan makanan dan minuman, mulai dari hidangan kekinian hingga menu favorit yang menggugah selera. Setiap kelompok menghadirkan produk andalannya dengan konsep dan cara pelayanan masing-masing.

Sejak pukul 07.10 WIB, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ustadz Rohmad, dilanjutkan sambutan Kepala SMPIT Al Uswah Surabaya, Ustadz Abd. Azhim, M.Pd. Doa pembuka dipimpin oleh Ilyas dari kelas 7D. Setelah itu, seluruh kelompok bersiap menata stan, memajang produk, dan memastikan perlengkapan jualan telah tersedia sebelum bazar dibuka.

Persiapan ini menjadi bagian penting dari pembelajaran. Siswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang menarik, tetapi juga belajar mengelola waktu, membagi tugas, menata tempat berjualan, serta memastikan kesiapan pelayanan.

Belajar Berjualan, Melayani, dan Mengelola Pelanggan

Kegiatan bazar berlangsung dengan melibatkan guru dan kakak-kakak kelas VIII serta IX sebagai pengunjung. Kunjungan dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 09.30–10.00 WIB untuk kelas 9C, 9D, 8C, dan 8D, kemudian pukul 10.00–10.30 WIB untuk kelas 9A, 9B, 8A, dan 8B.

Untuk mendukung transaksi, setiap siswa dan guru mendapatkan kupon belanja senilai Rp10.000. Jika ingin membeli produk tambahan, pengunjung dapat menambahkan uang secara mandiri. Skema ini membuat bazar semakin menarik sekaligus memberikan pengalaman transaksi yang lebih nyata bagi para penjual muda.

Ada pemandangan menarik sejak bazar berlangsung. Beberapa stan bahkan sudah kehabisan produk karena sebelumnya telah menerapkan sistem pre-order. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian kelompok telah mencoba membangun minat pembeli dan mengelola pesanan sebelum hari pelaksanaan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa kegiatan usaha tidak selalu dimulai ketika stan dibuka, tetapi dapat diawali dari strategi pemasaran dan komunikasi dengan calon pelanggan.

Salah satu stan yang mencuri perhatian adalah penjual seblak. Berbeda dengan produk yang dapat disiapkan dan langsung disajikan, seblak harus dimasak ketika dipesan agar tetap segar dan nikmat. Banyaknya pesanan membuat tim penjual harus bekerja ekstra untuk melayani pembeli satu per satu.

Kesibukan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa. Mereka belajar menghadapi situasi ketika permintaan pelanggan meningkat, menjaga kualitas produk, membagi pekerjaan, dan tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik. Bahkan, proses menyiapkan seluruh pesanan baru selesai sekitar pukul 13.00 WIB, jauh melewati waktu kunjungan bazar yang telah dijadwalkan. Setelah semua pesanan terpenuhi, tim stan seblak mulai membereskan perlengkapan jualannya.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa menjalankan usaha membutuhkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan. Produk yang diminati pasar tentu menjadi kabar menggembirakan, tetapi tingginya permintaan juga harus diimbangi dengan kemampuan produksi dan pelayanan yang baik.

Belajar Bertanggung Jawab hingga Akhir Kegiatan

Setelah sesi bazar dan kunjungan selesai, para siswa melanjutkan kegiatan dengan mengemas barang, membongkar stan, serta membersihkan area lapangan. Semula, seluruh area ditargetkan sudah kembali bersih pada pukul 11.30 WIB. Namun, beberapa kelompok yang masih menyelesaikan pesanan, seperti stan seblak, melanjutkan aktivitas hingga siang hari.

Pembelajaran kewirausahaan tidak berhenti pada keberhasilan menjual produk atau memperoleh keuntungan. Para siswa juga belajar bahwa setiap kegiatan usaha memiliki tanggung jawab yang harus dituntaskan, termasuk membereskan perlengkapan dan menjaga kebersihan lingkungan setelah berjualan.

Mengukir Pengalaman Menjadi Bekal Masa Depan

Bazar The Young CEO menjadi pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik nyata. Jika pada kegiatan Guru Tamu siswa mendapatkan inspirasi dan pemahaman tentang merancang usaha, kali ini mereka berkesempatan merasakan langsung dinamika menjadi seorang pelaku usaha.

Mulai dari menyiapkan produk, menentukan strategi penjualan, melayani pelanggan, mengelola pesanan, hingga membereskan stan, semuanya menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam pembelajaran di kelas.

Kegiatan ini juga menumbuhkan keberanian, kreativitas, kemandirian, komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab. Siswa belajar bahwa sebuah usaha tidak hanya membutuhkan produk yang menarik, tetapi juga perencanaan yang matang, pelayanan yang baik, serta kesungguhan dalam menjalankan amanah.

Melalui proyek kokurikuler kewirausahaan ini, SMPIT Al Uswah Surabaya berharap tumbuh generasi muda yang tidak hanya mampu mengenali peluang, tetapi juga berani mengambil inisiatif dan mewujudkan gagasan menjadi karya nyata.

Hari ini mereka belajar menjadi penjual. Esok, bukan tidak mungkin mereka tumbuh menjadi pencipta peluang, pembuka lapangan pekerjaan, dan pengusaha yang membawa manfaat bagi masyarakat. Sebab, jiwa wirausaha tidak tumbuh hanya dari teori tentang keuntungan, tetapi dari keberanian memulai, ketekunan menjalani proses, dan tanggung jawab atas setiap keputusan.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.