Lompat ke konten

SMPIT AL USWAH

BLC 2026: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan, Menempa Kemandirian di Alam Terbuka

.

Mojokerto — Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memberi arahan, melainkan kesanggupan mengambil tanggung jawab, menguatkan kebersamaan, dan berani melangkah ketika tantangan datang menghadang. Nilai-nilai inilah yang ditanamkan melalui kegiatan Basic Leadership Camp (BLC) 2026 bagi 110 siswa kelas VII Angkatan 18 SMPIT Al Uswah Surabaya.

Mengusung tema “Tangguh Bertindak, Berani Memimpin: Mengukir Karakter Pemimpin Sejati”, kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Jenjang Kelas VII pada 30 September–2 Oktober 2026 ini berlangsung di Klurak Eco Park, Mojokerto, Jawa Timur.

Selama tiga hari, para siswa mengikuti rangkaian perkemahan yang memadukan pembinaan kepemimpinan, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, dan penguatan ruhiyah. Alam terbuka menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata, tempat setiap siswa berlatih mengelola diri, memahami peran dalam kelompok, serta belajar bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya.

Hari Pertama: Belajar Mandiri, Membangun Kebersamaan

Perjalanan menuju Klurak Eco Park menjadi awal dari pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa. Setibanya di lokasi, mereka ditantang untuk mendirikan tenda secara mandiri. Aktivitas ini bukan sekadar menyiapkan tempat beristirahat, melainkan juga melatih kemampuan bekerja sama, membagi tugas, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Setelah pendirian tenda, kegiatan dilanjutkan dengan apel pembukaan dan pengarahan tata tertib. Para siswa mendapatkan pemahaman mengenai aturan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga ketertiban dan keselamatan selama mengikuti perkemahan.

Suasana semakin hangat melalui mini games yang dirancang untuk membangun kekompakan setiap regu. Dalam permainan, siswa belajar mengenali kelebihan teman, menyatukan gagasan, dan memahami bahwa keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi pada kontribusi seluruh anggotanya.

Pembinaan karakter juga berlangsung melalui pembiasaan ibadah. Salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan membaca Al-Ma’tsurat menjadi bagian dari upaya menjaga kedekatan siswa dengan Allah Swt. di tengah padatnya aktivitas.

Para siswa juga berlatih memasak makanan secara mandiri. Mereka belajar mengelola kebutuhan kelompok, membagi pekerjaan, dan menyelesaikan tugas bersama. Pengalaman sederhana ini menanamkan pemahaman bahwa kemandirian tidak tumbuh dari kebiasaan dilayani, tetapi dari kesediaan untuk mencoba dan bertanggung jawab.

Hari pertama ditutup dengan penyampaian materi kepemimpinan dan persiapan kegiatan malam. Berbagai pengalaman yang telah dilalui menjadi bekal awal untuk memahami bahwa seorang pemimpin perlu memiliki inisiatif, kedisiplinan, kepedulian, dan kesediaan memberikan teladan.

Hari Kedua: Menempa Disiplin, Mengasah Keberanian Memimpin

Hari kedua diawali dengan salat malam atau tahajud, dilanjutkan senam pagi. Pembiasaan ini mengajarkan bahwa kepemimpinan yang baik berawal dari kemampuan memimpin diri sendiri, termasuk dalam menjaga kedisiplinan, mengelola waktu, dan menjalankan kewajiban.

Salah satu kegiatan utama hari kedua adalah pelatihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan Leadership Discipline bersama instruktur TNI. Melalui latihan ini, siswa dibiasakan untuk mendengarkan instruksi, menjaga konsentrasi, bergerak secara teratur, serta membangun keselarasan dalam kelompok.

Latihan PBB memberikan pengalaman bahwa kedisiplinan bukan sekadar menaati aturan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang ketepatan, pengendalian diri, dan tanggung jawab terhadap gerakan bersama. Ketika setiap anggota mampu menjalankan perannya dengan baik, sebuah regu akan bergerak lebih tertib dan terarah.

Kegiatan dilanjutkan dengan outbound bertema tantangan kepemimpinan. Berbagai aktivitas dirancang untuk menguji kemampuan siswa dalam berkomunikasi, menyusun strategi, mengambil keputusan, dan bekerja sama menghadapi persoalan.

Dalam situasi yang menuntut penyelesaian masalah, siswa belajar bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Pemimpin juga perlu mendengarkan, memahami keadaan, mempertimbangkan pendapat anggota, dan berani mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Malam harinya, suasana perkemahan semakin semarak dengan upacara api unggun dan penampilan inagurasi dari setiap regu. Para siswa mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas, keberanian tampil, serta kemampuan menyusun pertunjukan bersama.

Di balik setiap penampilan, ada proses pembagian tugas, latihan, komunikasi, dan saling mendukung. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kebersamaan bukan berarti semua orang harus memiliki kemampuan yang sama, melainkan bagaimana setiap kelebihan dapat disatukan untuk menghasilkan karya yang bermakna.

Rangkaian kegiatan malam ditutup dengan refleksi BLC. Para siswa diajak menengok kembali pengalaman yang telah dilalui, mengenali hal-hal yang perlu diperbaiki, dan mengambil pelajaran dari setiap tantangan. Refleksi menjadi ruang untuk memahami bahwa pertumbuhan karakter tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang diikuti, tetapi juga oleh kesediaan untuk belajar dari pengalaman.

Hari Ketiga: Melangkah Bersama, Menuntaskan Tanggung Jawab

Memasuki hari ketiga, para siswa kembali mengawali kegiatan dengan salat malam, dilanjutkan senam pagi khas JSIT dan sarapan bersama. Pembiasaan ini memperkuat keteraturan aktivitas sekaligus menjaga keseimbangan antara pembinaan fisik dan ruhiyah.

Tantangan berikutnya adalah Long March Leadership Challenge, yaitu penjelajahan melalui rute yang telah ditentukan. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan yang telah dipelajari selama dua hari sebelumnya.

Sepanjang perjalanan, siswa dilatih untuk menjaga kekompakan, mengikuti arahan, mengelola tenaga, dan bertanggung jawab terhadap kelompoknya. Perjalanan menjadi ruang pembelajaran bahwa mencapai tujuan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi juga bagaimana setiap anggota dapat bergerak bersama dan saling menguatkan.

Semangat tanggung jawab kemudian dilanjutkan melalui operasi semut, kegiatan membersihkan area, merapikan perlengkapan, mengemas barang, dan membongkar tenda. Para siswa belajar bahwa meninggalkan lokasi dalam keadaan bersih merupakan bagian dari sikap disiplin dan kepedulian terhadap lingkungan.

Setelah melaksanakan ibadah dan makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi serta penutupan BLC. Para siswa diajak merangkum pengalaman dan nilai-nilai yang telah dipelajari selama perkemahan sebelum akhirnya bersiap kembali ke Surabaya.

Tiga hari di Klurak Eco Park pun menjadi perjalanan yang penuh makna. Berbagai aktivitas yang tampak sederhana, mulai dari mendirikan tenda, memasak, mengikuti latihan disiplin, hingga membersihkan area perkemahan, sesungguhnya menghadirkan kesempatan untuk melatih karakter dalam kehidupan nyata.

Menyiapkan Pemimpin yang Beriman, Mandiri, dan Peduli

BLC 2026 menjadi salah satu ikhtiar SMPIT Al Uswah Surabaya dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Program ini dirancang untuk mendukung pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sekolah, Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka, serta penguatan profil lulusan melalui nilai-nilai keimanan, kolaborasi, dan kemandirian.

Ketiga nilai tersebut saling melengkapi. Keimanan menjadi landasan dalam menentukan arah dan menjaga integritas. Kolaborasi mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan serta menyatukan potensi. Sementara itu, kemandirian membentuk pribadi yang berani mengambil inisiatif dan bertanggung jawab terhadap amanah.

Kepemimpinan pun tidak semata-mata diukur dari jabatan atau kemampuan mengarahkan orang lain. Kepemimpinan tumbuh ketika seorang siswa mampu mengendalikan dirinya, menepati kesepakatan, membantu temannya, menyelesaikan tugas, dan berani mengakui kekurangan untuk kemudian memperbaikinya.

Melalui BLC 2026, SMPIT Al Uswah Surabaya berharap seluruh siswa kelas VII Angkatan 18 memperoleh bekal berharga untuk menjalani kehidupan sekolah maupun masyarakat. Pengalaman perkemahan diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan baik yang dibawa ke dalam keseharian.

Sebab, pemimpin sejati tidak lahir hanya dari kata-kata tentang kepemimpinan. Ia ditempa melalui kesediaan untuk bertanggung jawab, keteguhan menjalani proses, keberanian menghadapi tantangan, dan ketulusan untuk tumbuh bersama orang lain. Dari langkah-langkah kecil di alam terbuka, semoga lahir generasi yang siap memimpin diri, menguatkan sesama, dan menebarkan manfaat bagi umat.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.