.
Oleh: Ust Fatih Abdul Aziz, M.T.
Ada banyak cara untuk mengenalkan masa depan kepada seorang anak. Ada yang melalui nasihat, ada yang melalui mimpi, dan ada pula yang melalui selembar surat.
Mengawali masa reorientasi di SMPIT Al Uswah Surabaya, para siswa diajak mengikuti sebuah kegiatan sederhana, namun sarat makna, bertajuk Letter to My Self. Sebuah aktivitas yang tidak menguji kecerdasan, tidak pula meminta jawaban benar atau salah, melainkan mengajak setiap siswa berdialog dengan dirinya sendiri.
Di hadapan selembar kertas surat yang telah disiapkan, mereka diminta membayangkan satu hari yang masih jauh di depan. Hari ketika mereka telah menyelesaikan perjalanan belajar di SMP, berdiri di atas panggung wisuda, dan menerima kembali surat yang hari itu mereka tulis.
Seakan sedang berbincang dengan “dirinya di masa depan”, setiap siswa mulai merangkai kata demi kata.
Mereka menuliskan ucapan terima kasih kepada diri mereka yang sekarang—diri yang sedang belajar, berjuang, jatuh, bangkit, dan terus berusaha meskipun terkadang lelah. Mereka juga mencurahkan harapan-harapan yang ingin diwujudkan, impian yang ingin diraih, serta janji-janji kecil yang ingin mereka tepati.
Tidak sedikit pula yang menuliskan pengalaman-pengalaman yang pernah membuat mereka sedih atau kecewa. Kegagalan, rasa malas, penyesalan, hingga kebiasaan yang ingin mereka tinggalkan. Semua tertuang dengan jujur di atas kertas, seolah mereka sedang berpesan kepada diri sendiri, “Jangan ulangi lagi. Jadilah pribadi yang lebih baik ketika surat ini kembali kamu baca.”
Suasana kelas pun berubah menjadi begitu hening. Bukan karena tidak ada yang ingin berbicara, melainkan karena setiap anak sedang berbicara dengan hatinya sendiri. Jemari mereka terus menari di atas kertas, sementara pikiran mereka melayang jauh menuju masa depan yang sedang mereka impikan.
Yang istimewa, surat-surat tersebut tidak langsung dibaca kembali.
Setelah selesai ditulis, seluruh surat akan disimpan dengan baik oleh wali kelas sebagai kapsul waktu. Surat-surat itu akan tetap “tertidur” selama perjalanan tiga tahun di SMPIT Al Uswah, hingga tiba saatnya dibuka kembali pada hari wisuda.
Betapa menarik membayangkan momen itu.
Tiga tahun kemudian, setiap siswa akan menerima kembali surat yang pernah mereka tulis. Mereka akan membaca tulisan tangan mereka sendiri, mengenang mimpi-mimpi yang pernah dipanjatkan, serta melihat sejauh mana Allah telah mengantarkan langkah-langkah mereka.
Barangkali ada doa yang telah dikabulkan. Ada target yang berhasil dicapai. Ada pula harapan yang masih harus terus diperjuangkan. Apa pun hasilnya, surat itu akan menjadi saksi bahwa mereka pernah berani bermimpi dan berjanji kepada diri sendiri untuk terus bertumbuh.
Melalui kegiatan ini, SMPIT Al Uswah tidak hanya mengajarkan siswa untuk merancang masa depan, tetapi juga mengajarkan pentingnya mengenal diri sendiri. Sebab seseorang yang memahami siapa dirinya hari ini akan lebih mudah menentukan siapa yang ingin ia menjadi di masa depan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan keyakinan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Masa depan dibangun oleh pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari: memilih untuk belajar ketika malas datang, memilih bangkit setelah gagal, memilih memperbaiki diri setiap kali melakukan kesalahan, dan memilih tetap percaya bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Semoga ketika kapsul waktu itu akhirnya dibuka pada hari wisuda nanti, setiap senyum yang terukir adalah senyum penuh syukur. Senyum karena mereka berhasil menjadi pribadi yang lebih baik daripada diri mereka hari ini.
Karena sejatinya, surat yang paling indah bukanlah surat yang dikirim kepada orang lain, melainkan surat yang mampu mengingatkan diri sendiri untuk terus melangkah, terus berharap, dan tidak pernah berhenti menjadi versi terbaik yang Allah ridhai.
Berita lainnya
BLC 2026: Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan, Menempa Kemandirian di Alam Terbuka
Belajar dari Dunia Nyata, Siswa SMPIT Al Uswah Surabaya Jelajahi Pabrik Yakult dan Budidaya Jamur Tiram
LSEC Angkatan 17: Menempa Kemandirian, Menguatkan Kebersamaan di Alam Terbuka
Ukir Prestasi di Ajang Nasional, Muhammad Arfeen Hadi Ashta Raih Medali Emas KSNR-8
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.




